Aksi Borong Panic Buying Saat Indonesia Positif Corona


Pemerintah mengungkap adanya pasien yang positif terjangkit virus corona, yakni dua orang warga Depok, Jawa Barat, yang saat ini dirawat di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara. 

Hal itu disampaikan langsung Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan, Senin (2/3). Tak lama berselang, sejumlah pembelian berlebihan (panic buying) terjadi. Mulai dari masker dan disinfektan di apotek dan Pasar Pramuka, Jakarta, yang diserbu pembeli. Hingga bahan pangan dan bahan pokok yang diborong konsumen.

Di AEON Mall BSD, Tangerang Selatan misalnya, menjelang sore mendadak ramai diserbu warga. Banyak warga yang berbondong-bondong datang untuk membeli bahan makanan. Antrean di kasir pun mengular panjang. Warga memenuhi trolinya dengan berbagai bahan makanan.


"Ini aku lagi di sini. Aku sih perhatiin memang kosong mi instan, susu anak, sereal," kata salah seorang warga, Izar Zarona, kepada kumparan, Senin (2/3). 


Etalase yang biasa dipenuhi berbagai kebutuhan pokok, juga terlihat kosong. 

Keadaan ini ternyata tak serta-merta membuat pengusaha bersuka cita. Lazimnya, mereka tentu senang jika barang dagangannya habis terjual. 

Tapi Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) Roy N. Mandey, yang memayungi usaha tokok-toko modern, berharap dan mengimbau masyarakat Indonesia untuk tidak belanja berlebihan atau melakukan panic buying akibat fobia (ketakutan).

Menurut Roy, para peritel anggota APRINDO selalu siap untuk hadir dan cukup, dalam memenuhi kebutuhan pangan maupun nonpangan bagi masyarakat di seluruh Indonesia.


"Dikarenakan tindakan yang over atau berlebihan ini justru membuat kepanikan atau fobia baru lainnya, yang tidak perlu terjadi. Kondisi ini terjadi di saat sebenarnya seluruh kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi dan tercukupi dengan baik," ujar Roy dalam keterangan tertulis. 

Dia juga meminta agar para pengusaha yang tergabung sebagai peritel anggota APRINDO terus dan tetap melayani kebutuhan masyarakat, serta mengambil tindakan atau kebijakan yang dianggap perlu untuk memastikan bahwa kebutuhan masyarakat dapat terlayani dengan cukup dan baik.

Tapi keramaian pembeli juga terjadi Lotte Mart, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Seorang warga, Albert Oentoro (36), bahkan mengaku harus antre hingga 2 jam untuk membayar belanjaannya di kasir. 

PTR- Pengujung memborong bahan makanan di Lottemart
"Kebetulan foto saya itu diambil di Lottemart Kelapa Gading, apa karena berita virus corona pagi ini, atau memang pas juga waktunya dengan belanja bulanan masyarakat," ujar Albert kepada kumparan, Senin (2/3).  
Tak Semua Toko Diserbu Pembeli Meski demikian, tak semua pusat perbelanjaan diserbu pembeli yang mengalami panic buying. Dari pantauan kumparan di salah satu pasar swalayan di Apartemen Green Pramuka, Jakarta Pusat, situasinya relatif normal. 

Pengunjung tak terlalu sesak. Barang yang mereka beli juga tak berlebihan. Antrean di tiga kasir memang tampak panjang, tapi barang-barang yang dibeli dalam keranjang besar belanja terlihat dalam jumlah yang wajar. 

Supermarket di Apartemen Green Pramuka

Salah satu pengunjung pasar swalayan, Laras, mengatakan kedatangannya berbelanja selepas bekerja bukan karena panik terkait berita virus corona. Dia hanya menyetok barang-barang yang sudah habis seperti tisu dan sabun mandi.


"Enggak panik karena itu, tapi memang agak ke trigger dikit nyari antiseptik, hand sanitizer. Cuma habis, enggak ada sama sekali di sini," kata dia saat ditemui kumparan. 

Supermarket di Apartemen Green Pramuka

Pengunjung lain, Riska, mengaku malam ini berbelanja ke sini karena sedikit terpengaruh berita hari ini. Dia pun menyetok beberapa makanan instan, tapi tak banyak seperti yang beredar di media sosial.

Dia juga belanja bulanan seperti biasa dan ikut mencari cairan pencuci tangan untuk mencegah terjangkit virus corona. Tapi, tak ketemu.

sumber : kumparan.com

Post a Comment

Previous Post Next Post