Mengapa Deterjen terkena air menjadi Panas dan Berbahaya bagi Kulit

Pastinya teman-teman Quora pernah merasakan panas ketika menggenggam deterjen bubuk yang akan dilarutkan dengan air di dalam ember.
(Sumber gambar: Deterjen Pakaian)
Saat ini saya tidak akan membahas mekanisme kerja deterjen. Tapi jika teman-teman penasaran seperti apakah mekanisme kerja deterjen untuk membersihkan kotoran, teman-teman dapat membaca jawaban saya di Jawaban Hans Antonius Sugianto untuk Bagaimana mekanisme deterjen membersihkan kotoran?
Seperti yang kita ketahui secara prinsip, bahan aktif dari deterjen adalah surfaktan, beberapa senyawa oksidator, serta alkalis yang merupakan komponen penting dalam produk deterjen maupun produk pembersih.
Lalu manakah bagian dari deterjen yang menimbulkan rasa panas ketika terkena air?
Teman-teman penasaran kan??? hayo dibaca sampai selesai ya.
Surfaktan dalam deterjen bubuk yang biasa digunakan saat ini adalah liniear alkil benzene sulfonat (pengganti alkil benzene sulfonat, karena lebih ramah lingkungan jika dibanding alkil benzene sulfonat).
Berikut adalah salah satu garamnya, yaitu sodium linear alkil benzene sulfonat.
(Sumber gambar: sodium-linear-alkyl-benzene-sulfonate)
Liniear alkil benzene sulfonat merupakan senyawa surfaktan anionik yang banyak digunakan dalam detergen dengan konsentrasi berkisar antara 22–30%. 
(Sumber gambar: sodium-linear-alkyl-benzene-sulfonate)
Ternyata bahan inilah penyebab rasa panas ketika detergen dicampur dengan air. Linier alkil benzene sulfonat ini akan menghasilkan reaksi eksoterm (reaksi pelepasan energi dari sistem ke lingkungan) ketika bertemu air.
Di dalam MSDS (Material Safety Data Sheet) Linier alkil benzene sulfonat pun bersifat mengiritasi kulit dan mata (efek semakin besar jika konsentrasi semakin tinggi). 
Selain linier alkil benzene sulfonat, sebenarnya masih ada bahan yang menyebabkan rasa panas di tangan, yaitu kandungan senyawa alkalis di dalam deterjen bubuk.
Senyawa alkalis yang umum digunakan pada deterjen bubuk adalah Na2CO3 (natrium karbonat atau sodium karbonat). Penambahan natrium karbonat berfungsi untuk memungkinkan distribusi yang lebih merata dari bahan pembersih selama siklus pencucian. Natrium karbonat (soda abu) juga sangat efektif dalam menghilangkan alkohol dan noda lemak dari pakaian. Selain itu, soda abu juga membantu proses pengumpulan pengotor, dan sebagai sumber alkali untuk penyesuaian pH. 
(Sumber gambar: Sodium Carbonate)
Natrium karbonat juga akan bereaksi dengan magnesium dan kalsium. Mg dan Ca adalah penyebab kesadahan air, air yang sadah akan sulit menghasilkan busa.
Sama seperti linier alkil benzene sulfonat, natrium karbonat juga bersifat irritant (mengiritasi kulit dan mata). Kulit kita bisa teriritasi setelah kontak lama atau berulang dengan natrium karbonat, menyebabkan kemerahan atau pembengkakan. 
(Sumber gambar: Irritant symbol)
Jadi komponen surfaktan seperti liniear alkil benzene sulfonat dan komponen alkalis seperti natrium karbonat dapat mengiritasi tangan dan menyebabkan panas saat penggunaan deterjen.

Lalu bagaimana penanganannya untuk menghindari dan mengatasi iritasi pada kulit?
Penanganan untuk mengatasi iritasi karena deterjen: Segera mencuci bagian yang terkena deterjen dengan air bersih, jika terlanjur iritasi segera temui dokter untuk penanganan lebih lanjut.
Untuk menghindari terjadinya iritasi gunakan deterjen secukupnya (pelarutan dengan air bersih yang cukup, jangan terlalu pekat dan ikuti petunjuk penggunaan), hindari kontak dengan deterjen terlalu lama.
Demikian jawaban saya, semoga bermanfaat yah. Terimakasih sudah membaca.
H.A.S

Post a Comment

Previous Post Next Post