Kisah memilukan dari Seorang Ibu dengan anaknya


Ini anak perempuanku yang belum lama ini lahir. Aku sebenarnya berada dalam situasi ini sekarang. Aku menjawab ini bukan karena aku ingin putriku mati tanpa penderitaan, tapi karena aku ingin dia mendapatkan kesempatan hidup. 
Dia lahir 11 hari yang lalu di Selandia Baru dengan kondisi jantung yang fatal jika tidak dirawat dan hal-hal menyedihkan lainnya seperti 2 jarinya yang hilang. Otak dan organ yang lainnya baik-baik saja dan aku bisa tahu kalau dia masih ingin hidup.
Karena kekhawatiran rumah sakit bahwa dia menderita suatu sindrom (tidak terbukti, tes genetika terperinci telah dilakukan dan tidak ada yang pernah melihat kasus seperti ini) mereka memutuskan untuk tidak mengoperasinya karena dianggap terlalu berisiko. 
Aku sudah meminta ahli genetika terkenal di dunia untuk meninjau kembali kasusnya namun diabaikan. Aku sudah mati-matian memperjuangkan supaya dia bisa dioperasi, sudah ke komite etika dan masih ditolak. Mereka percaya risiko penderitaannya dan kemungkinan kerusakan otak akibat pembedahan tidak sepadan, meskipun mereka sering melakukan pembedahan ini dalam kasus yang diketahui dengan sindrom.
Dalam beberapa hari ke depan, mereka akan berhenti memberinya obat yang membuatnya tetap hidup dan dia akan "diizinkan" untuk mati supaya tidak lagi menderita. Dia dengan polos menatap wajah kita tanpa tahu apa-apa tentang nasibnya yang telah orang lain putuskan.
Haruskah kita membiarkan seorang anak mati untuk mencegah penderitaan? Tidak, tidak jika masih ada harapan. Menurutku pertanyaan sebenarnya di sini adalah :
"Apakah orang lain selain orang tua memiliki hak untuk memutuskan nasib seorang anak atau apakah hak untuk memutuskan tersebut harus diserahkan kepada orang tua untuk memberi anak mereka kesempatan berjuang jika itu yang dilakukan anak tersebut?"
Dalam kasus kami, kami tidak diberi pilihan. Keputusannya diserahkan kepada 17 orang yang bahkan belum pernah bertemu dengannya. Bahkan ahli jantung pediatriknya telah berjuang menentang rekannya sendiri.
Bayi ajaibku telah mengatasi banyak hal, dan dia telah membuktikan kepada semua orang bahwa dia adalah pejuang…. Namun hari Kamis dia tetap akan dibiarkan mati. Apakah ini dibenarkan? Mungkin ... Tapi aku percaya kalau hal itu bukan hal yang benar.
Update : Jumat 2 Desember.
Dia dipulangkan dari rumah sakit dan semua suplai obat ke dirinya dihentikan. Aku langsung naik ke pesawat dengannya ke negara asal kami, Uni Emirat Arab (UEA). Mudah-mudahan, sekarang dia ada di tangan yang aman. 24 jam perjalanan yang sangat mendebarkan tetapi dia telah dirawat di departemen kardiologi pediatrik terbaik di UEA - sekarang saya hanya bisa berdoa mereka akan menerimanya untuk dioperasi. Aku tidak akan pernah berhenti berjuang demi gadis kecilku yang berharga.
Update : Jumat, 2 Desember.
Dia baru saja diterima di ICU bayi di UEA tetapi kondisinya drop beberapa jam kemudian dan membutuhkan CPR. Dia bertahan dengan penopang hidup sekarang tetapi sekali lagi masalah yang sama dengan operasi, mari kita berharap tim dokter bisa melihat beberapa hal lain. Dokter bedahnya adalah dokter paling ramah yang pernah aku temui dan aku harap itu pertanda baik.
Update : Kamis 8 Desember.
Lamees telah menjalani operasinya. Prosedur operasinya sangat sulit tetapi sejauh ini dia melewatinya dengan sangat baik. Tidak pernah disebutkan tentang jari-jarinya yang hilang - tidak ada kesan sama sekali bahwa dia mengidap sindrom. Para dokter telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya.
Update : 12 Desember
Aku dengan sedih mengumumkan bahwa Lamees meninggal kemarin, dalam usia 23 hari. Terima kasih untuk semua yang sudah berkomentar dan mendoakan, dia akan selalu menjadi malaikat kecilku.

Post a Comment

Previous Post Next Post