Keunggulan obat Paten dibanding obat Generik


Karena kakak-kakak, teman-teman, dan saudara-saudari sekalian merupakan fakta nyata bahwasanya obat generik itu cuma peduli anda sembuh.
Maksudnya?
Ya ketika obat tersebut diminum, dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa, sertifikasi nomor registrasi regulator BPOM, dan tandatangan kepala departemen Pemastian Mutu Pabrik obat, secara niscaya obat yang anda konsumsi akan berefek sesuai dengan indikasi pengobatan yang tertulis di leaflet obat tersebut.
Kalau parasetamol ya pusingnya hilang, panasnya turun.
Kalau omeprazol, asam lambungnya berkurang.
Kalau fenilefrin hidung mampetnya jadi tidak mampet lagi.
Kalau zinc, diarenya membaik.
Ya begitu.
Terus...?
Ya terusss... permasalahan minum obat itu bukan semata-mata efek kesembuhan yang tercapai, tapi juga pengalaman ketika menggunakan obat. Experience gitu loh.
Hah, penting emangnya pengalaman minum obat? Bukanya glek-glek-glek udah ya. Emangnya maraton All You Can Eat? Lebih dari dua jam diusir halus pelayannya. Mati dong nanti saya nelen tablet kaya kacang garuda.
Iya dong, pengalaman itu penting. Pake banget. Saya cerita nih:
Pernah suatu ketika, saat saya entah sakit apa. Saya membawa diri sendiri ke GMC. Gadjah Mada Medical Center. Puskesmas gratis untuk seluruh civitas.
Saya daftar, menunggu sebentar, anamnesis, dan didiagnosis.
Resep ditulis, obat dirilis, dan saya pun kembali ke kos membuka-sobek salah satu foil kemasan obat saya; metilprednisolon tablet (saya riwayat asma, ibuprofen dan kroni-kroninya dilarang).
Saya mengambil tabletnya. Putih manis. Kecil. Cilik. Sedikit berdebu putih kasar kalau digosok tangan. Saya siapkan aqua botol, saya buka tutupnya. Hup, saya genggam aqua di tangan kiri. Kemudian dengan tangan kanan saya, saya sentuhkan tablet metilprednisolon tadi ke lidah saya.
"hooOOOOEKKK!!!!!"
Saya muntah.
Pahitnya saudara-saudara. Pahit se pahit-pahitnya pahit. Seperti pencinta kopi item tanpa gula tanpa krim, full black merasa pahit kopinya itu kurang greget, sehingga dia menambahkan ekstrak pare kedalam seduhan kopinya.
Tabletnya sudah jantuh di lantai, terkulai. Saya yang masih tercengkrama dengan renjana pahit menenggak aqua di tangan saya,
"Glek...glek..glek...aaaAAAAAA!!"
Rasa pahitnya sekarang berpindah ke batas kerongkongan saya. Saya berlari ke kamar mandi. Mengambil air segayung. Berkumur. Melepah. Masih terasa. Berkumur. Melepah. MASIH!! Berkumur lagi. Melepah!!
Percuma!!
Akhirnya saya ingat saya membeli madu sebelum pulang. Dengan kesetanan orang kepedesan, saya cabik, saya robek hingga lendir bening jingga manis itu merasuk lidah saya.
"Pelit amat ni perusahaan, salut gula aja ga ada."
Yak itu dia saudara-saudara kekurangan obat generik dari obat paten.
Karena marginnya yang kecil. Selama obat tersebut sudah memenuhi syarat BPOM maka obat tersebut memang sudah berefek.
Tapi yang namanya salut gula supaya tablet pahit dapat ditelan manusiawi, sirup rasa jeruk menggoda, kaplet untuk memfasilitasi orang yang suka tersedak, dan gel tidak berminyak dengan sensasi rasa dingin adalah domainnya obat paten.
Dalam dunia pengobatan hal ini dikaitkan dengan isu compliance atau kepatuhan pasien menggunakan obat.
Kecuali BPJS menetapkan bahwa tidak muntah karena pahit adalah hak segala bangsa. Cutting cost seperti itu adalah kewajaran yang niscaya.
Jadi obat paten mahal karena itu?
Iya menafikkan fakta marketing, bahan pengisinya juga punya harga yang lumayan.
Terus solusinya apa?
Seperti kata bijak yang sudah lama beredar di internet
"Sultan mah Bebas"
Maka jadilah Sultan.

Post a Comment

Previous Post Next Post