Kenapa Jokowi suka sekali membangun tol? Bukankah tidak semua orang memerlukan tol? Begini Alasannya

Namanya Dwight D. Eisenhower, bekas jenderal kawakan Amerika Serikat.
Beliau menjadi “paman” bagi banyak orang Amerika, figur pemimpin yang dapat didekati oleh semua orang karena sikapnya yang penuh keterbukaan.
Meskipun pernah menjabat presiden, Eisenhower kalah populer dibanding tokoh kompatriot kharismatik sezamannya. Sebut saja Roosevelt dan Kennedy.
Namun ada satu catatan menarik dari kepemimpinan Eisenhower selama beliau menjabat sebagai presiden Amerika Serikat. Catatan itu bernama U.S. Interstate Highway, sebuah mega-proyek infrastruktur jalan bebas hambatan.
Bukan proyek jalan tol biasa, tentu saja. Ini adalah proyek yang mengubah wajah Amerika Serikat dalam waktu setengah abad berikutnya.
Proyek infrastruktur ini mengiris-iris Amerika Serikat dari tepi selatan sampai ke papar utara, dari barat sampai ke timur, semuanya dengan jalan bebas hambatan melintang membujur menyisir tanah Amerika kotak-kotak ibarat tempe. Panjang jalannya sekarang mencapai 77.000 kilometer, alias sepadan dengan dua keliling lingkaran planet bumi melalui garis khatulistiwa.
Sebelumnya tidak pernah ada presiden yang mempunyai mimpi sebesar ini.

Jangan pernah membayangkan bahwa Amerika Serikat dulu adalah negara yang mempunyai infrastruktur yang megah seperti sekarang. Sebelum tahun 1956, tak seluruh Amerika terhubung oleh infrastruktur jalan yang pantas. Berbagai sudut negara bagian terutama di kawasan tengah negara tersebut terisolasi, menunggu keterbukaan akses yang pembangunannya berjalan sedikit demi sedikit.
Namun tentu saja semua jalan raya yang luas mulus itu tidak turun dari langit.
Harus ada yang membangunnya.


Di sinilah Eisenhower berperan mengubah wajah Amerika.
Tidak mudah. Kita bicara perihal Amerika Serikat, sebuah negara dengan hampar daratan lima kali lebih luas daripada daratan Indonesia, bukan negara yang kecil layaknya Singapura atau Hong Kong.
Tentu saja ide gila tersebut tidak begitu saja diterima, biayanya luar biasa.
Harus ada yang berani berinvestasi. Harus ada yang berani rugi di depan.
Namun Eisenhower begitu cerdas memanfaatkan keadaan. Amerika Serikat baru menuntaskan Perang Dunia II, kondisi masyarakat kala itu penuh dengan gejolak patriotisme serta paranoia. Sang presiden berargumen, meyakinkan senat, bahwa apabila suatu saat nanti Amerika Serikat diserbu oleh musuh, maka adanya suatu infrastruktur jalan yang menjangkau seluruh ujung negeri adalah penting untuk menunjang kelancaran logistik militer. Lebih cepat dibangun, lebih baik.
Palu diketuk. Senat menyetujui mega-proyek ini demi pertahanan negara.
Peta Amerika dibentangkan. Negara besar ini diiris-iris dengan sambungan jalan beraspal nan lebar-lebar yang mampu mengakomodasi tidak hanya mobil, tetapi kendaraan-kendaraan khas militer. Proyek mahabesar ini dimulai di setiap sudut Amerika Serikat secara serentak, untuk seluruh negara bagian. Tanpa peduli apa negara bagian tersebut miskin atau kaya, apakah warganya orang Protestan atau Katholik, apakah yang menang Partai Demokrat atau Partai Republik, apakah itu berbatasan dengan Samudera Pasifik atau dengan Samudera Atlantik, semuanya diperlakukan sama. Semua negara bagian Amerika Serikat diperlakukan dengan setara, sama rata : memperoleh jatah infrastruktur jalan.
Inilah proyek infrastruktur terbesar pada abad ke-20.


Bagaimana mereka mendanai semua ini?
Kala itu perang baru saja usai, Amerika Serikat sedang mengalami ketidakpastian ekonomi dunia. Meskipun relatif kaya, Amerika Serikat saat itu belum cukup kaya mendanai mega-proyek sebesar ini. Dana APBN tidak akan cukup.
Tetapi Eisenhower tidak pernah kehabisan akal.
Maka dari itu dirilislah Highway Trust Fund (HTF), Pemerintah Amerika Serikat membuka kucuran dana dari investasi masyarakat, dari pajak, dan tentu saja dari kenaikan harga bensin. Ibarat Indonesia memangkas seluruh subsidi BBM untuk dijadikan penopang dana infrastruktur, inilah strategi bisnis yang dilakukan oleh pemerintahan Eisenhower pada waktu itu. Bukan memangkas subsidi, tapi harga bensin dinaikkan dan seluruh keuntungan menjadi dana infrastruktur.
U.S. Interstate Highway tidak hanya menjembatani sudut-sudut Amerika, namun mengubah total wajah Amerika. Inilah The Nationwide Fabric, atau yang sering diucapkan oleh Anies Baswedan dengan istilah Tenun Kebangsaan. Inilah wujud tenun fisik yang mengikat Amerika Serikat menjadi satu kesatuan bangsa.
Kelancaran pergerakan masyarakat adalah salah satu kunci kemakmuran, pembangunan jalan adalah salah satu cara mencapainya. (Rose, 1979)
Kota-kota ‘shanty’ ala koboi yang senyap perlahan berdenyut, mengalami banyak modernisasi menjadi kota urban modern. Pusat-pusat permukiman di pinggir rel kereta api perlahan meredup digantikan oleh pusat-pusat ekonomi baru di seluar interchange jalan tol. 
Kargo-kargo dapat menjangkau semua sudut negara bagian dengan lebih predictable, pusat-pusat industri serta manufaktur tumbuh dengan memanfaatkan keberadaan akses jalan, kawasan-kawasan industri bertumbuh di sepanjang wilayah Amerika Serikat, industri kendaraan tumbuh pesat, konsumsi masyarakat menanjak secara konsisten beberapa tahun berikutnya. 
Infrastruktur jalan tol ini menggerakkan pertumbuhan ekonomi masyarakat Amerika, menjadi negara adidaya yang makin kencang berlari meninggalkan pesaing-pesaingnya.
Beberapa puluh tahun kemudian tol-tol yang investasinya telah balik modal pun sekarang sudah digratiskan, bahkan hanya tersisa sedikit yang masih berbayar.


Sepanjang 40 tahun pertama U.S. Interstate Highway ini berdiri, prestasinya pun bukan main-main :
  • Menyelamatkan nyawa lebih dari 187.000 jiwa.
  • Mengurangi kecelakaan lebih dari 12 juta jiwa, dibanding jalan biasa.
  • Meningkatkan kualitas hidup rakyat Amerika.
  • Memberi manfaat ekonomi $6 untuk setiap ongkos $1, enam kali lipat.
  • Menunjang pertumbuhan ekonomi Amerika selama puluhan tahun.
  • Mengikat persatuan antar negara bagian di Amerika Serikat.
  • Meningkatkan nilai kompetitivitas Amerika Serikat, dan banyak lagi.
Bagi siapapun yang sudah sempat mengunjungi Amerika Serikat, tentu mengerti bagaimana ekonomi Amerika Serikat menjadi yang terbesar di dunia bertopang kepada infrastruktur mereka yang kapabel, yang terintegrasi, yang menasional.
Ketika infrastruktur layak, mobilitas bukan lagi hambatan pertumbuhan.

Mengapa saya bercerita tentang Amerika Serikat?
Karena saya tidak ingin berangan-angan tentang apa saja yang bisa diraih dengan pembangunan jalan tol. Akan jauh lebih baik kita melihat ke contoh yang saat ini terpampang sudah jelas-jelas ada.
Indonesia bisa seperti itu, mengikuti pola yang sudah ada.
Tidak ada gunanya kita berangan-angan apa manfaat jalan tol dan lain-lain. Anda maupun saya cuma perlu melihat bagaimana jaringan jalan raya mengubah wajah negara terbesar di dunia, Amerika Serikat dan China. Menjelaskan tentang fungsi ataupun manfaat jalan tol bisa jadi perdebatan politis, kita cukup memahami saja bagaimana negara-negara maju telah lebih dahulu melakukannya.
Panjang jalan tol di Indonesia saat ini setara dengan panjang jalan tol di Hungaria, sebuah negara Eropa Tengah yang luasnya setara luas provinsi Riau. Masih sangat kurang tentu saja, yang berarti pembangunan tol adalah sebuah keniscayaan.
Segala perdebatan yang menyatakan jalan tol tidak penting adalah statemen yang dilontarkan orang-orang yang hanya sanggup melihat Indonesia dua tiga tahun ke depan, bukan tiga puluh empat puluh tahun ke depan, short-sighted.
Pembangunan infrastruktur memang harus prudent. Tetapi untuk kasus jalan tol Lintas Jawa, Lintas Sumatra, Manado-Bitung, Samarinda-Balikpapan, itu semua masih masuk kategori no-brainer. Jelas-jelas ada kebutuhan.
Saya sering bercerita bahwa ekonomi itu ibarat dhingklik, atau istilah Jawa untuk bangku berkaki tiga. Ketiga kakinya harus seiring sejalan :
  1. Investasi
  2. Infrastruktur
  3. Konsumsi
Jokowi belum berhasil di poin ketiga, yaitu mendongkrak daya beli. Tetapi bukan berarti kita harus menyalahkan infrastruktur. Justru jangan sampai apabila suatu waktu daya beli masyarakat kembali meningkat, infrastruktur kita tidak mampu menopang dua kaki yang lain sehingga dhingklik ini terjengkang.
Infrastruktur adalah long-ball game, manfaatnya hanya bisa diraih dalam jangka panjang. Berpikir untuk jangka pendek-pendek, bekerja setengah-setengah, atau enggan bersakit-sakit dahulu (berani rugi) demi masa depan nan lebih baik tidak membawa Indonesia ke mana-mana.
Mengapa jalan tol? Karena dibutuhkan konektivitas lancar bebas hambatan.
Bagaimana dengan jalan biasa? Tetap dibangun juga dengan skala pembangunan sama besarnya. Jadi keduanya sama-sama penting dan sama-sama dibangun.
  • Jokowi Bangun 3.432 Km Jalan Nasional dan 941 Km Jalan Tol
  • 4 Tahun Jokowi-JK dan Catatan Pembangunan Infrastruktur
Mana yang lebih penting tol atau jalan desa? Dari mana dana pembangunannya? Apakah kita masih hutang ke negara sini atau negara situ? Itu semua pertanyaan yang lain lagi, bisa panjang membahasnya. Saya fokus ke pertanyaan ini saja.

Indonesia telah bergerak cepat, keberadaan infrastruktur merupakan kebutuhan penting yang selama ini menjadi hambatan mencapai kemakmuran. Barangkali banyak di antara kita yang tidak menyadari, namun di dalam waktu enam tahun, sejauh inilah kita telah berlari.
Dan enam tahun kemudian, berkat pembangunan yang masif, infrastruktur dari negara ini setara Thailand. Hanya kalah dari Singapura dan Malaysia. Bayangkan sejauh mana Indonesia akan melangkah pada tahun 2024.
Dan saya yakin seluruh pemimpin negara ini pun sebenarnya menyadari bahwa pembangunan infrastruktur adalah salah satu masalah utama yang wajib untuk menjadi fokus pembangunan Indonesia saat ini.
Termasuk di dalamnya, jalan tol.
Jadi apabila ada yang bertanya kenapa Jokowi suka sekali membangun jalan tol, sebenarnya siapapun presidennya, mereka pasti menyadari bahwa infrastruktur jalan tol di Indonesia masih sangat kurang sehingga perlu dibangun pada skala besar-besaran. Siapapun presidennya, asal masih waras, pasti berpikiran sama.
Pertanyaannya adalah seberapa besar ambisi mereka mewujudkannya.
Dan layaknya Eisenhower, Jokowi punya ambisi mewujudkan itu.

Post a Comment

Previous Post Next Post