Arti lingkaran hijau pada kemasan obat


Informasi tentang obat biasanya sudah tertera dalam kemasannya melalui simbol khusus. Berikut adalah arti simbol pada kemasan obat dikutip dari kumparan.com:
  • Simbol hijau dengan lingkaran hitam : Nah, obat dengan simbol hijau dengan lingkaran hitam ini tentunya sudah biasa kamu jumpai setiap harinya. Obat ini tergolong obat-obatan yang beredar bebas. Artinya, obat ini dapat kamu jual atau beli tanpa batasan. Namun, kamu tak perlu khawatir, karena biasanya dalam kemasan obat ini sudah terdapat petunjuk penggunaan dan penyimpanan. Contoh obat ini adalah paracetamol seperti Panadol, Paramex, dan sebagainya.
  • Simbol biru dengan lingkaran hitam : Obat dengan simbol biru yang dilingkari warna hitam ini adalah obat bebas terbatas. Untuk membelinya kamu tak memerlukan resep dokter. Namun, obat ini juga tergolong obat keras karena kandungannya. Untuk menggunakannya kamu perlu berhati-hati dan memperhatikan petunjuk penggunaan pada kemasannya.
  • Simbol huruf ‘K’ dalam lingkaran merah : Obat dengan simbol 'K' dalam lingkaran merah di kemasannya tergolong obat keras dan psikotropika. Untuk memperolehnya, kamu memerlukan resep dokter. Biasanya, obat ini tak bisa dibeli dengan bebas. Contoh obat keras adalah pereda nyeri seperti asam mefenamat, spasminal, neuralgin, dan sebagainya. Kamu perlu berhati-hati dalam mengonsumsinya karena dapat memperparah penyakit, meracuni tubuh, bahkan menyebabkan kematian. Nah, simbol ini juga digunakan untuk golongan obat-obatan psikotropika. Namun, obat-obatan psikotropika bukanlah golongan narkotika karena berbeda secara alamiah dan sintesisnya.
Foto : dokumen pribadi. Prograf adalah obat dari golongan immunosuppresant yang banyak diresepkan untuk penderita autoimun atau organ transplant.
  • Simbol 'Palang Medali Merah' : Obat-obatan yang tergolong paling berbahaya adalah golongan narkotika dengan simbolnya seperti tanda plus berwarna merah atau dikenal dengan lambang 'Palang Medali Merah'. Narkotika adalah obat-obatan yang berasal dari tanaman ataupun tidak, baik berupa sintesis maupun semi sintetis.
Foto : Codipront, obat batuk dengan kandungan kodein. Kodein adalah obat golongan opioid. Biasanya saya kalau batuk selalu diresepkan obat ini.
  • Label High Alert : Obat high alert/kewaspadaan tinggi adalah obat-obatan yang memiliki risiko lebih tinggi untuk menyebabkan/ menimbulkan adanya komplikasi / membahayakan pasien secara signifikan jika terdapat kesalahan penggunaan (dosis, interval, dan pemilihannya). Obat ini sering menyababkan kesalahan serius (sentinel event) dan dapat menyebabkan reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD).
Foto: dokumen pribadi. Simarc dan Notisil adalah obat pengencer darah yang sering menyebabkan reaksi obat yang tidak diinginkan berupa perdarahan.
Kemudian ada 3 logo tambahan khusus untuk jenis herbal:
  • Simbol pohon : Obat yang memiliki simbol berwarna hijau dengan gambar pohon itu tergolong pada obat yang berbahan dasar herbal atau tanaman tradisional yang biasa disebut dengan jamu. Bahkan, biasanya di bawah simbol tersebut sudah tertuliskan kata ‘jamu’. Sampai saat ini, jamu masih dianggap sebagai obat yang ampuh menyembuhkan berbagai penyakit, lho! Contohnya Tolak Angin, langganan masyarakat Indonesia untuk melawan masuk angin ini tergolong dalam jamu.
  • Simbol tiga bintang : Obat dengan simbol tiga bintang berwarna hijau ini disebut dengan Obat Herbal Terstandar atau OHT. Namun, OHT berbeda dengan jamu. Perbedaannya terdapat pada proses pengolahannya. Obat dengan bahan dasar alami ini diolah dengan teknologi tinggi dan higienis yang sudah diuji toksisitas dan kronisnya. Sebelum diproduksi, OHT sudah melalui penelitian pre-klinik untuk mengetahui standar kesehatannya. Contoh obat yang tergolong OHT adalah Kiranti yang biasanya dikonsumsi wanita ketika mengalami nyeri haid atau Diapet yang biasa dikonsumsi untuk menyembuhkan diare.
  • Serpihan salju berwarna hijau : Nah, simbol yang mirip seperti serpihan salju berwarna hijau ini disebut dengan fitofarmaka. Mirip dengan OHT, fitofarmaka juga berbahan dasar alami yang diolah dengan teknologi tinggi. Namun, fitofarmaka ini sudah disetarakan dengan obat-obatan modern. Proses pengolahannya lebih sulit dibandingkan OHT. Fitofarmaka diolah dengan proses yang terstandar dengan bukti ilmiah yang telah di uji klinik pada manusia dengan kriteria ilmiah, protokol uji yang telah disetujui, pelaksanaan yang kompeten dengan prinsip etika, dan tempat pelaksanaan proses pengolahan fitofarmaka telah memenuhi syarat. Contoh obat yang tergolong fitofarmaka seperti STIMUNO, obat yang berfungsi untuk memperbaiki sistem imun yang sangat mudah diperoleh dari apotek itu tergolong fitofarmaka.
Jadi, kenalilah obat-obatanmu sebelum kamu mengonsumsinya. Jangan sampai salah memilih golongan obat-obatan di atas, ya!

Post a Comment

Previous Post Next Post