Apakah saraf gigi beregenerasi usai sakit gigi?

Jawabannya adalah BISA (dengan tindakan). Saya asumsikan sakit gigi ini diakibatkan saraf gigi yang sudah terekspose baik karena karies dan instrumentasi (saat dibersihkan dokter gigi).
Sudah siap?
Gigi berlubang adalah proses ketika remineralisasi dan demineralisasi gigi tidak seimbang. Gigi tersusun dari 3 mineral yaitu Kalsium, Fosfat, dan Fluoride. Ketiganya hancur!
Bagian enamel adalah jaringan anorganik sehingga ketika hilang, ia tidak akan pernah kembali bahkan jika kamu merengek balikan sambil mengancam bunuh diri. Sementara itu bagian dentin dan saraf gigi adalah jaringan organik sehingga bisa tumbuh kembali.
Pada karies, asam yang dihasilkan bakteri akan merusak struktur gigi sehingga menjadi larut/keropos.
Tapi tidak semudah itu Ferguso!!!
Gigi merupakan jaringan hidup. Sama seperti jika kamu terinfeksi bakteri atau virus, tubuh akan melakukan perlawanan. Proses remineralisasi akan terjadi untuk menumbuhkan jaringan yang hilang itu. Lubang gigi akan semakin luas dan dalam ketika bakteri-bakteri tadi merusak lebih cepat daripada proses remineralisasi. Yah, kalau pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, kantong celana jadi berlubang bukan?
Sekedar mengingatkan, ketika kamu sakit gigi, belum tentu sarafnya sudah terekspose. Bisa jadi lubangnya begitu dalam mendekati pulp chamber sehingga tekanan dari sisa makanan yg terjebak di lubang menimbulkan rasa sakit. Lihat sekali lagi anatominya.
  • Jika pulp chamber (kamar pulpa) belum terbuka, gigi bisa langsung direstorasi (perhatikan saya menggunakan kata restorasi, bukan sekedar TAMBAL) dengan bahan yang biomaterial sehingga merangsang pertumbuhan jaringan dentin baru.
  • Jika pulp chamber belum terbuka namun kamar pulpa tidak sengaja terbuka saat jaringan yang sudah rusak dibersihkan, ia bisa ditutup kembali dengan bahan biomaterial (disebut biomaterial karena dentin itu jaringan organik. Ingat?)
  • Jika sakitnya diakibatkan pulp chamber sudah terbuka sehingga saraf gigi mengalami peradangan (pulpitis), maka ada 2 tindakan yang bisa dilakukan.
Opsi pertama adalah tindakan konvensional, yaitu root canal treatment/perawatan saluran akar. Tindakan ini bertujuan mengeluarkan saraf gigi yang sudah tersentuh bakteri tadi. Ruang kosong yang ditinggalkan akan diisi padat sehingga bakteri tidak berkembang. Bakteri jenis Enterocossus akan berkembang jika mendapatkan ruangan dan makanan. 
Jadi kita harus menutup ujung saluran akarnya dengan padat, lalu menutup bagian atasnya (direstorasi) dengan baik. Pada tindakan ini, saraf gigi hilang sehingga gigi menjadi zombie. Dengan prosedur, alat, teknik, dan bahan yang benar, tingkat keberhasilan tindakan ini lebih dari 95%.
Opsi kedua, ini belum populer, yaitu dilakukan tindakan LSTR (Lesion Sterilization & Tissue Repair). Tindakan ini merupakan kebalikan dari RCT tradisional. Sebisa mungkin saraf tidak disentuh sama sekali. 

Diperkenalkan pertama kali oleh Profesor Hoshino dari Jepang, terapi ini mendapat pro - kontra namun hasil studi menunjukkan tingkat keberhasilan yang lumayan tinggi. Perlu diingat LSTR ini tidak menggantikan RCT karena masing² punya indikasi dan kelebihan-kekurangannya sendiri.
Jadi apa itu LSTR? LSTR berangkat dari pemikiran bahwa peradangan pada saraf diakibatkan bakteri dan jaringan organik akan beregenerasi.
Bagaimana jika kita matikan saja bakterinya?
LSTR adalah pemberian campuran antibiotik lokal dengan teknik dan takaran tertentu, diletakkan di pulp chamber yang bertujuan mensterilkan saraf yg telah terinfeksi.
Jika bakteri sudah mati (demineralisasi berhenti), tentu saja remineralisasi akan terjadi sehingga vaskularisasi akan terjadi kembali. Jaringan saraf akan tumbuh kembali dan gigi akan tetap hidup.
Tentu saja ini harus diikuti penggunaan bahan restorasi yang biomaterial untuk menggantikan atap pulpa dan jaringan dentin yg sudah hilang.

Post a Comment

Previous Post Next Post