Apakah Membunuh Jenderal Iran di Irak, Trump dapat menyebabkan perang Dunia ketiga?


Mari kita melihat latar belakang masalah ini terjadi, dan jangan hanya melihat cerita ini sebagai cerita provokasi Trump belaka. Banyak media yang mengatakan bahwa seolah-olah selama ini tidak ada perang antara AS dan Iran. AS dan Iran sudah bertahun-tahun berperang.
 Namun, perang-perang ini dilakukan di negara-negara proksi, seperti Yaman, Irak, dan Suriah. Kebetulan, yang dibunuh oleh Trump adalah Qassem Soleimani, pemimpin perang-perang proksi Iran. Soleimani adalah perancang skenario (mastermind) perang saudara Suriah dan memberikan senjata dan misil untuk kubu Houthi (perang Yaman).
Soleimani juga mendukung teroris-teroris agar Iran memperoleh kekuasaan yang lebih besar di Timur Tengah, contohnya ketika Soleimani mendanai Hezbollah di seluruh Timur Tengah untuk menyerang/mengcounter Israel. Singkat cerita, Soleimani adalah hitman (tukang pukul) dari Iran, meskipun Soleimani bukanlah termasuk tentara Iran (Soleimani adalah ketua dari Pasukan Quds dan Iranian Revolutionary Guard/IRG, yang bukan merupakan bagian dari tentara nasional Iran). 
Organisasi Soleimani, IRG, pun juga pertama kali dicap teroris oleh AS ketika masa pemerintahan Barack Obama, bukan di masa pemerintahan Trump.
Nah, kemudian bagaimana koalisi AS merespons hal tersebut? Koalisi AS yang terdiri dari Eropa, Inggris, Israel, Arab Saudi, merespons kejadian pembunuhan tersebut dengan tetap mendukung AS. Tidak ada satupun koalisi AS yang membelot ke Iran setelah masalah ini. 
Inggris merespons dengan mengatakan bahwa pembunuhan tersebut ada dasarnya. Uni Eropa mengatakan bahwa Iran harus mengikuti persetujuan Iran (JCPOA/Iran Deal). Arab Saudi sudah mengirim Khaled bin Salman, adik dari Putra mahkota Mohammad bin Salman, ke Washington DC sebagai tanda bahwa Arab Saudi mem-backing Trump dalam hal ini. 
Jadi, koalisi AS masih kuat, sehingga kemungkinan Iran menyerang AS atau koalisinya sangat kecil. Hanya, negara-negara yang dianggap netral, seperti Irak dan Qatar, membelot ke kubu Iran.
Dari segi ekonomi, Iran juga menginvestasi di negara-negara yang pro-AS, seperti Uni Emirat Arab. Iran menggertak akan menyerang Dubai di Uni Emirat Arab dan Haifa di Israel melalui Hezbollah. Namun, investasi bisnis Iran di UEA mencapai 300 milyar dolar AS. 
Jadi, jika Iran menyerang UEA, investasi Iran juga akan ludes. Dan lagi, mayoritas dari investasi tersebut berasal dari rezim Iran bukan dari swasta. Dikabarkan bahwa Ayatollah Khameini, kepala negara Iran, memiliki investasi sebanyak 19 milyar dolar AS di UEA melalui pihak ketiga. Jadi, kemungkinan besar Iran tidak akan menyerang Uni Emirat Arab sebagai bagian dari eskalasi.
Sebagai pembalasan, Iran melakukan serangan pada pangkalan militer AS di Irak. Namun, tidak ada korban jiwa yang berasal dari AS. Menurut Pentagon, Iran sengaja untuk tidak menembak pangkalan militer secara akurat. Menurut saya, ini adalah langkah de-eskalasi dari Iran untuk memperbaiki situasi. Saya rasa Iran tidak mau berperang meskipun mereka juga mau menyelamatkan muka (save face) mereka karena jenderalnya dibunuh oleh AS. 
Menurut saya, pengaruh penyerangan AS tersebut lebih ke domestik Iran. Rezim Iran menggunakan propaganda untuk menyelesaikan konflik internal dengan para demonstran kaum muda. Baru saja, Iran membunuh 1500 demonstran.
Menurut saya, Iran tidak berani untuk membalas AS dan Iran menggunakan kejadian ini sebagai alat propaganda domestik Iran. Kemungkinan perang langsung (bukan perang proksi) dengan kubu AS pun sangat kecil.

Post a Comment

Previous Post Next Post