Kumari Devi gadis kecil yang dipuja Bagaikan Dewi

Kumari Devi adalah sosok yang diyakini sebagai reinkarnasi dari Dewi Kali, salah satu dewi Hindu yang dikaitkan dengan kegelapan, kematian, dan kehancuran, namun sekaligus juga bisa mewakili pembaruan, pembersihan, serta ibu pelindung. 
Setelah seorang gadis memenuhi semua persyaratan panjang dan rumit tersebut, hidupnya akan berubah. Kumari yang memiliki arti harfiah "perawan" dalam bahasa Nepal mau tidak mau harus meninggalkan rumahnya dan disembunyikan di kuil. 
Ia hanya boleh keluar untuk mengikuti festival atau ritual sebagai subjek yang dipuja atau disembah.
Terdapat beberapa versi legenda yang menceritakan asal usul sang Dewi hidup ini. Versi pertama mengatakan bahwa pertemuan rutin antara Dewi Taleju dan Raja diketahui oleh permaisuri, yang akhirnya membuat Dewi Taleju memutuskan untuk berinkarnasi sebagai gadis cilik agar bisa ditemui Raja dan memiliki unsur kedewian untuk melindungi seluruh kerajaan.
Sementara itu versi kedua menjelaskan bahwa ada pertemuan rutin Raja dan Dewi Taleju berakhir karena ada upaya pendekatan secara seksual oleh Raja sehingga Dewi Taleju menghentikan pertemuan rutin itu. Dalam penyesalannya, Raja meminta Sang Dewi untuk kembali agar dapat menjaga kesejahteraan kerajaannya, Dewi Taleju setuju untuk kembali sebagai gadis cilik.
Versi ketiga berkembang pada abad ke-12, bahwa ada seorang gadis kecil yang dikucilkan dari masyarakat karena dianggap telah dirasuki oleh Dewi Durga. Permaisuri Raja tidak percaya begitu saja lalu ia mempelajari suratan nasib gadis kecil itu. 
Ternyata hal itu membuatnya marah karena Raja sendiri yang telah menjadikan gadis kecil itu sebagai inkarnasi Dewi Durga. Bagaimanapun sebuah benang merah bisa ditarik, bahwa ada kaitan khusus antara Kumari dan Sang Raja.
Kumari yang akan terpilih ada syaratnya harus berumur antara empat tahun hingga mencapai pubertas. Ia juga harus memenuhi 32 persyaratan fisik seperti warna mata, jumlah dan bentuk gigi, penanggalan lahir, hingga jenis suara. 
Adapu beberapa syarat yang wajib dimiliki oleh seorang Kumari Devi, antara lain yaitu tubuhnya harus seperti pohon banyan (beringin), pahanya harus seperti rusa, bulu matanya lentik seperti bulu mata sapi, 20 giginya harus utuh, mata dan rambutnya harus hitam legam.
Ketika Kumari Devi terpilih, terdapat sebuah ritual perdana yang harus ia ikuti. Namanya Kalratri atau Malam Kelam. Dalam ritual ini, 108 kerbau dan kambing dikorbankan. Sang Kumara Devi terpilih kemudian dibawa ke halaman kuil Taleju. 
Di sana kepala binatang korban yang sudah disembelih diterangi cahaya lilin dan para lelaki bertopeng menari di sekelilingnya. Lalu Kumari Devi akan bermalam di sana bersama kepala-kepala binatang korban tersebut. Ia tidak boleh menunjukkan rasa takut dan jijik sedikit pun. 
Jikalau dia lolos dalam ritual ini, ia akan mengikuti ritual selanjutnya untuk membersihkan masa lalunya. Sejak detik itu pula, ia tidak diizinkan untuk menemui keluarganya sampai nanti waktu mengizinkannya kembali
Sang dewi hidup tidak diperkenankan untuk berjalan.untuk berjalan dari satu tempat ke tempat lain, ia biasanya ditandu dengan duduk di suatu singgasana atau dibopong. Ia juga dilarang pergi ke sekolah atau menjalani kehidupan layaknya gadis seumurannya. Dalam setahun, umumnya ia hanya 13 kali ia keluar rumah atau terlihat di muka umum.
Ia tak bisa pergi ke sekolah karena tak boleh kelihatan di muka umum. Akhirnya, seorang guru dari St. Xavior School lah yang datang untuk memberinya pelajaran di rumahnya di Patan, Nepal. St. Xavior School sendiri merupakan sebuah sekolah yang memberikan beasiswa penuh untuk mengedukasi para dewi hidup selama “masa jabatannya”.
Gerak-gerik Kumari dianggap sebagai jawaban ramalan nasib seseorang. Misalnya, jika sang dewi hidup memilih makanan yang diberikan maka itu artinya seseorang tersebut akan mengalami kerugian finansial. 
Jika ia menangis, maka akan ada yang sakit atau meninggal dunia. Jika dia gemetar, itu tanda seseorang tersebut akan segera dipenjara. Tapi kalau ia diam saja, itu artinya permohonan seseorang akan segera dikabulkan. Ekspresi diamnya inilah yang sebenarnya paling diharapkan oleh orang-orang yang mengunjunginya atau memujanya.
Seorang Kumari Devi tidak bisa menghabiskan seumur hidupnya menjadi seorang dewi. Saat sudah puber atau mengalami menstruasi pertama, maka berakhir sudah kehidupannya sebagai seorang dewi. 
Ia pun akan mengikuti ritual upacara Gufa selama 12 hari. Dalam ritual ini, ia akan dimandikan di sungai Bagmati di Patan, Nepal. Kemudian ia akan didandani dengan memakai gaun pernikahan tradisional Nepal, berwarna merah dengan kain yang menutupi wajahnya saat ia dibawa keluar ruangan untuk memuja matahari. 
Setelah ritual upacara selesai, ia pun kembali ke kehidupan normalnya, yaitu kembali ke sekolah dan menikmati hari-harinya seperti remaja lainnya.
Para Kumari Devi yang sudah “pensiun” umumnya memiliki kaki yang lemah karena lama tak digunakan untuk berjalan. Meski begitu, mereka juga berusaha sebaik mungkin untuk kembali hidup normal setelah menghabiskan sebagian hidupnya sebagai seorang dewi hidup.

Post a Comment

Previous Post Next Post