Ke mana perginya PSK yang sudah "tidak laku" di pasaran karena usia

Waktu masih kuliah dulu, saya sering diajak teman main billiard, kadang kami main di tempat khusus untuk main billiard, kadang di sebuah hotel dekat kampus.
Suatu malam kami bermain billiard di hotel. Karena lapar, di tengah-tengah permainan saya keluar sebentar untuk cari makan. Kebetulan di seberang hotel ada penjual mie rebus yang sedang mangkal. Nongkronglah saya disana.
Ada beberapa gadis ABG, sekitar 4–5 orang yang sama-sama nongkrong sambil makan mie rebus. Umur mereka saya perkirakan antara 16–18 tahun. Duduk sendirian agak jauh dari kami, seorang wanita setengah baya.
Beberapa saat kemudian, para ABG selesai makan, lalu mereka masuk ke dalam hotel di seberang jalan. Si wanita setengah baya mendekati saya, menanyakan apakah saya tamu hotel dan menawarkan jasa pijat. Saya menolaknya dan mengatakan bahwa saya bukan tamu hotel, cuma main billiard.
Dia lalu bercerita bahwa waktu masih muda dia sering mangkal cari pelanggan di diskotek di hotel tersebut, sama kayak anak-anak ABG tadi, katanya. Saya baru ngeh bahwa anak-anak ABG tadi ternyata PSK.
Kemudian, lanjutnya, dia mendapat kenalan seorang laki-laki dari diskotek dan merekapun menikah. Tapi sayang suaminya teryata bukan orang yang bertanggungjawab, dia suka mabuk, judi dan suka main perempuan.
Tapi kok dia mau? Ya karena dalam lubuk hati yang paling dalam seorang PSK, mereka selalu menginginkan ada seorang laki-laki yang mau menikahi dan membawanya keluar dari dunianya yang sekarang. Lelaki pemabuk tadi, dalam pandangannya saat itu mungkin ibarat knight in shining armor.
Akhirnya, karena tidak tahan lagi dengan kelakuan suaminya, mereka bercerai tidak lama setelah dia melahirkan anak pertama.
Didorong oleh kebutuhan hidup, dan karena tidak punya pekerjaan lain, ia memutuskan kembali ke pekerjaan lamanya: menjadi PSK freelance di diskotek hotel.
Setelah beberapa tahun bekerja secara freelance, dia pindah ke "aquarium" di hotel yang sama. Menurutnya, kerja di dalam aquarium tidak sebebas seperti freelance, tapi pelanggannya lebih pasti.
Illustrasi: "Aquarium" hotel, gambar dari sumber
Dia menjadi penghuni aquarium sampai pertengahan umur 30-an, sebelum akhirnya berhenti karena tidak bisa lagi bersaing dengan mereka yang lebih muda.
Kemudian dia belajar pijat (betulan) dari tetangganya. Pada siang hari dia menerima panggilan pijat (betulan) untuk dewasa dan pijat bayi, pada malam hari kadang-kadang masih mangkal di sekitar hotel untuk menawarkan jasa pijat plus-plus. Itulah yang dijalaninya sampai saat ini umurnya 44 tahun. Dia tidak pernah menikah lagi.
Menurut pengakuannya, dia sudah semakin jarang keluar malam, hanya kalau ada kebutuhan keuangan yang mendesak. Anaknya sekarang sudah SMA, dan tidak tahu tentang masa lalu atau pekerjaan sampingan ibunya, hanya tahu profesi ibunya sebagai tukang pijat. Dia khawatir kalau-kalau suatu saat terpergok oleh salah satu teman anaknya saat menunggu lelaki hidung belang, hal itu pasti akan membuat anaknya malu di sekolah.

Post a Comment

Previous Post Next Post