Penjelasan Lengkap Tentang Migrain




Apa itu migrain?

Migrain adalah sakit kepala sebelah yang nyerinya berdenyut hebat dan terjadi berulang-ulang. Umumnya terjadi pada salah satu sisi kepala, tetapi kadang-kadang mengenai kedua sisi kepala.

Nyeri timbul secara mendadak dan bisa didahului atau disertai dengan gejala gangguan penglihatan seperti berkunang-kunang, gangguan saraf, atau gangguan saluran pencernaan (mual, muntah).

Siapa saja yang dapat terkena migraine?

Sakit kepala sebelah ini dapat terjadi pada usia berapa saja, tetapi umumnya pada permulaan masa dewasa. Umumnya mulai timbul pada usia antara 10–30 tahun; dan kadang-kadang menghilang setelah usia 50 tahun. Migrain lebih sering menyerang wanita yang memiliki riwayat migrain pada keluarganya.

Apakah penyebab migrain?

Migrain dapat terjadi karena faktor internal ataupun eksternal. Faktor internal adalah peningkatan hormon pada siklus menstruasi. lebih dari separuh penderita memiliki keluarga dekat yang juga menderita migrain, sehingga diduga ada kecenderungan bahwa penyakit ini diturunkan secara genetik. Seorang anak dengan salah satu orang tua yang mengalami migrain memiliki risiko 50% untuk migraine. jika kedua orang tua memiliki migrain, risiko anak tersebut meningkat hingga 75% [1] . Faktor internal lainnya adalah perubahan metabolisme otak.

Faktor eksternal meliputi keadaan stress, kelelahan atau terlalu banyak tidur, puasa atau terlambat makan, perubahan cuaca, perbedaan tekanan udara (pada ketinggian), beberapa jenis makanan dan atau obat-obatan.

Gambar patofisiologi dari migraine, sumber: Neuropsychiatry of Chronic Migraine - Pathophysiology and Treatment


Migrain terjadi jika arteri yang menuju otak menyempit dan kemudian melebar, yang akan mengaktifkan reseptor nyeri didekatnya. Apa yang menyebabkan pembuluh darah tersebut mengerut dan melebar tidak diketahui. Tetapi diperkirakan dipengaruhi kadar serotonin yang rendah dapat memicu terjadinya konstriksi pembuluh darah. Terkadang migrain juga disebabkan oleh kelainan pembentukan pembuluh darah.

Pelebaran pembuluh darah dapat dicetuskan oleh makanan, perubahan hormonal (sebelum menstruasi), stress, jet lag, lampu yang terang dan berkedip-kedip, berhenti minum kopi atau teh secara mendadak.

Fase dari migraine

Serangan migraine sering dilaporkan memiliki empat fase[2] , yaitu:


Fase prodromal atau premonitori

Gejala-gejalanya sering sulit digambarkan dan muncul dalam hari dan jam. gejalanya dapat berupa menguap, tegang leher/tengkuk, haus, dan poliuria.

Fase aura

Pada 28% pasien migraine, fase prodromal alam berkembang menjadi fase aura dan dapat langsung atau bersamaan dengan fase sakit kepala. pasien dapat mengalami halusinasi visual dan pendengaran, perasaan gangguan fisik dan mental dan bahkan kehilangan sebagian pengelihatan.

Fase sakit kepala

Digambarkan sebagai tekanan berdenyut yang intensif dengan peningkatan tekanan intrakranial yang berujung pada mual, sensitif terhadap cahaya, suara dan penciuman

Fase postdromal

Fase ini dikarakterisasikan dengan gejala-gejala termasuk kelelahan dan buruknya konsentrasi seperti isu kognitif (kemampuan komprehensif dan penurunan tingkat mood, hingga depresi).

Klasifikasi migraine

Saat ini, migrain diklasifikasikan menggunakan International Classification of Headache Disorders (ICHD-3).

Migraine episodik

Lima sakit kepala setidaknya 4 (empat) hingga 72 jam dan dapat digambarkan oleh dua dari empat kriteria pertana, dan satu dari tiga kriteria terakhir: 1) lokasi unilateral, 2) berdenyut, 3) nyeri sedang hingga parah, 4) gangguan oleh atau penghindaran aktifitas fisik, 5) mual dan/atau muntah, 6) foto fobia, 7) phonofobia

Migraine kronik

Sakit kepala (tegangan atau seperti migraine) setidaknya 15 hari perbulan untuk lebih dari tiga bulan dan setidaknya delapan sakit kepala perbulan.

Faktor risiko terkait pengobatan:

Pengobatan akut yang tidak efektif

Risiko kronifikasi migraine meningkat dua kali karena pemaparan terhadap nyeri yang lebih lama, semakin memungkinkan terjadi penurunan treshold ketika serangan migraine selanjutnya.

Penggunaan obat migraine berlebihan

Pengobatan kronis memfasilitasi kronifikasi migraine melalui ketergantungan obat tan toleransi. dan juga sakit kepala yang disebabkan kelebihan konsumsi obat sakit kepala/ medication-overuse headache (MOH) merupakan bentuk kronis migraine kronis yang sering dihasilkan dari penggunaan berlebihan dari barbituran, analgesik atau opioids (atau kombinasi keduanya).

Faktor risiko terkait metabolisme

Beberapa penelitian menyarankan obesitas dan sindrom metabolik merupakan faktor risiko pada peningkatan keparahan migraine dan peningkatan seperti progresi dari frekuansi episodik kronis.

Komorbiditas dari penyakit ini kemungkinan mekanisme patofisiologi yang umum, seperti obat terakhir-seperti mediator inflamasi yang telah disampaikan.

Faktor risiko terkait psikologis

Migraine kronis (bukan migraine episodik) secara signifikan berhubungan dengan kelainan neurologis lainnya seperti epilepsi dan stroke sama seperti penyakit psikiatrik seperti depresi, kecemasan, gangguan bipolar dan post traumatic stress disorder (PTSD).[3]

Depresi, kecemasan dan gangguan bipolar memiliki hubungan bidireksional dengan migraine dan dapat meningkatkan risiko kronifikasi jika tidak diobati.

Gangguan bipolar II dikaitkan dengan risiko tinggi mengembangkan migraine.[4]

Pengobatan migraine

Dapat diklasifikasikan menjadi terapi simtomatik (mengurangi gejala) atau terapi preventif (pencegahan).

Terapi simtomatik

Mayoritas dari obat anti migraine spesifik adalah 5-HT receptor antagonis.

meliputi turunan ergot (Ergotamine tartrate, dan dihidroergotamine, komponen triptan (sumatriptan, zolmitriptan, rizatiptan, naratriptan, eletriptan, frovatriptan, dan almotriptan).

Turunan Ergot

Telah menggantikan triptan disebabkan efek samping yang signifikan yaitu interaksinya dengan banyak subtipe dari reseptor 5-HT, alfa adrenoceptor dan reseptor dopamine D2. Penggunaan turunan ergot yang sering dikaitkan dengan sakit kepala yang diinduksi oleh ergotamine.

Triptan

Merupakan kelompok dari tujuh kandungan yang menunjukan efektif dalam mengobati migraine dalam sejumlah uji acak terkontrol. setiap triptan memiliki profil efikasi dan keamanan yang berbeda dan juga farmakokinetik dan farmakodinamiknya. oleh karena itu, keuntungan terapi triptan adalah terapi yang dapat di individualisasikan kepada setiap pasien.

Pada saat ini, triptan diindikasikan untuk terapi akut migraine sedang hingga parah dan menguntungkan jika diberikan pada awal fase sakit kepala.

Terapi pencegahan

Strategi pencegahan yang tepat dapat secara efektif menurunkan kejadian migrain dan membantu mencegah keparahan migrain ketika muncul.


1.Topiramat

merupakan salah satu agen farmasetika yang secara luas diteliti untuk migraine kronis. Topiramat telah menunjukan secara signifikan sangat efektif dalam menurunkan sakit kepala dan meningkatkan kualitas hidup dari pasien migraine. efek samping dari topiramate (>10% insiden) meliputi rasa lelah (fatigue), depresi, somnolensi (keadaan kesadaran menurun/cenderung tidur) dan paresthesia.

2. Botulinum neurotoxin (BoNT-A)

Analisis menunjukan sediaan BoNT-A yang tersedia dipasaran secara statistika signifikan mengurangi kejadian sakit kepala dibandingkan dengan plasebo.

3. Amitriptyline (dosis rendah) dan propanolol dipertimbangkan sebagai agen pencegahan migraine yang efektif dengan komorbid gangguan psikiatrik.

4. Asam Valproat efektif dalam pencegahan migraine pada pasien dengan gangguan bipolar.


Teknik neuromodulasi

Neuromodulasi merupakan pendekatan yang baru dalam terapi migraine kronik. Teknik ini melibatkan stimulasi magnetik pada sirkuit saraf spesifik pada otak. Sebagai pilihan terapi non-farmakologis, neuromodulasi dapat menghindari reaksi obat yang merugikan terkait pengobatannya.


Sumber gambar: Neuromodulation | California Pain Medicine Center


Ada dua tipe utama dari teknik neuromodulasi: yaitu neuromodulasi sentral dan perifer.

Teknik neuromodulasi sentral (stimulasi magnetik transkranial dan stimulasi arus langsung transkranial) belum diteliti secara cukup.

Teknik neuromodulasi perifer berupa Non-invasive vagus nerve stimulation (nVNS) sebelumnya telah digunakan untuk mengaobati epilepsi dan depresi. pada sebuah penelitian melibatkan pasien migraine kronik, dosis 90 detik dua unilateral nVNS (terpisah 15 menit) menyebabkan 22% migraine kronis yang digagalkan dengan serangan 43% disampaikan bahwa memiliki penurunan pada nilai nyeri.

Neuromodulasi tertarget pada saraf oksipital dan korteks visual sebelumnya telah digambarkan pada sebuah terapi yang efektif untuk menurunkan kluster sakit kepada yang kronis. jenis dari teknik neuromodulasi tertarget termasuk: Occiupital nerve stimulation (ONS) dan stimulasi supraorbital (SONS) melibatkan penggunaan pada arus.

Target neuromodulasi berupa:

stimulasi saraf oksipital (ONS) dan stimulasi saraf supraorbital SON) menunjukan arus elektrik sedang pada saraf oksipital.

Terapi suportif

Terapi nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk mengurangi migraine adalah[5]

1. Terapi Sikap Dan Perilaku : Stress dikaitkan sebagai salah satu pemicu timbulnya migraine. Kurangi stress dengan belajar mengontrol stress dipercaya dapat mengurangi migraine.

2. Akupuntur: Beberapa penelitian menunujukkan akupuntur dapat mengurangi nyeri dan frekuensi srengan migraine.

3.Yoga: melakukan yoga secara teratur minimal selama 3 bulan secara signifikan dapat mengurangi nyeri dan frekuensi serangan.

4. Suplemen Herbal Dan Vitamin: mengkonsumsi suplemen vitamin seperti vitamin B2 (riboflavin) dan Coenzime Q10 diketahui dapat membantu dalam mengurangi frekuensi serangan.

Semoga dapat membantu~

Post a Comment

Previous Post Next Post