Apakah menghisap ganja bisa membunuhmu?



Hello sobat apotik, kali ini kami membagikan sedikit penjelasan tentang tanaman ini. Apakah menghisap ganja bisa membunuhmu?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kami akan mengecualikan aktivitas yang dilakukan orang saat tengah mabuk. Seperti halnya di bawah pengaruh alkohol, orang mengemudi atau sedang beraktivitas lain dianggap berbahaya ketika sedang dalam pengaruh ganja. Kami juga akan mengecualikan contoh penggunaan obat-obatan, di mana seseorang ditemukan mati tidak hanya karena ganja. Tetapi karena zat lain yang jauh lebih berbahaya dalam sistem tubuhnya.


Dalam hitungan korban jiwa berdasarkan zat-zat tertentu (tidak termasuk kejahatan dan kecelakaan); tembakau membunuh lebih dari 400 ribu orang per tahun. Alkohol membunuh lebih dari 125 ribu orang per tahun. Lebih dari 25 ribu orang meninggal karena overdosis resep. Kafein memakan korban lebih dari 2 ribu orang. Aspirin membunuh lebih dari 500an orang. Kacang tanah membunuh lebih dari 100-an orang, garam lebih dari 35 orang. Dan tidak pernah ada satu pun laporan yang kematiannya terverifikasi oleh sebab ganja.

Pengguna ganja, rata-rata, meninggal tidak lebih cepat dari mereka yang bukan pengguna dan memiliki usia harapan hidup yang sama. Untuk risiko hingga bisa menyebabkan kematian oleh sebab kegagalan organ, seorang pemadat (baca: tukang nyimeng, —pen.) harus mengkonsumsi 20 ribu hingga 40 ribu kali jumlah THC. THC adalah unsur utama psikoaktif ganja. Dengan nama kimia tetrahydrocannabinol, istilah THC juga mengacu pada isomer cannabinoid (tambahan pen. dari Wikipidea).

Itu bukanlah hal yang mencemaskan bagi para pemakai kronis sekali pun. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Institute on Drug Abuse menghitung bahwa seseorang perlu mengonsumsi hampir 1.500 pon ganja dalam waktu 15 menit untuk menghasilkan respons mematikan. Hal ini tentu saja tidak memberi kejutan apa pun bagi yang mendengarnya, mengingat secara fisik seseorang tidak mungkin mampu menghisap ganja sebanyak 100 pon per menitnya. 

Selain itu, tidak ada reseptor kanabinoid yang ditemukan di batang otak, area otak yang bertanggung jawab untuk kesehatan pernapasan dan sebagian besar fungsi tubuh dasar. Karena itu secara fisik tidak mungkin mati karena overdosis ganja. Dalam penelitian yang lebih brutal, dan sangat ilegal pada 1974, 13 monyet liar ditangkap dan hampir mati karena diasapi ganja selama 90 hari. Namun semua primata yang ditangkap itu kemudian jadi baik-baik saja dalam waktu seminggu setelah percobaan berakhir.

Ada dua kasus yang didokumentasikan dan dilaporkan bahwa seseorang meninggal akibat ganja. Tetapi kasus-kasus ini telah jadi bahan perdebatan di dunia medis. Diterbitkan oleh Forensic Science International pada Februari 2014, korban pertama adalah seorang pria berusia 23 tahun yang memiliki masalah jantung serius namun sebelumnya tidak terdeteksi. 

Pria itu telah mengonsumsi ganja selama beberapa tahun sebelum beralih ke galur dan produk dengan konsentrasi lebih tinggi, dan setelah mengonsumsi 200 mg, ditemukan tewas di apartemennya. Sebagai perbandingan, dosis yang direkomendasikan untuk bisa dikonsumsi, dan jumlah rata-rata yang dikonsumsi oleh konsumen biasa, adalah 10 mg. Laporan tersebut menyatakan bahwa masuknya ganja menyebabkan peningkatan besar dalam denyut jantung, yang menyebabkan masalah kardiovaskular parah yang mengakibatkan kematiannya. Ganja, seperti banyak hal lainnya, menyebabkan takikardia atau peningkatan denyut jantung. Karena peningkatan itu setara dengan 30 menit latihan, dan korbannya adalah konsumen yang mengonsumsi ganja selama bertahun-tahun sebelum kematiannya.

Para praktisi medis di seluruh dunia mempertanyakan laporan ini, termasuk Dr. Alan Shackelford, seorang profesor terkemuka di Harvard, Dokter Colorado yang terlatih. Dia mengatakan, "Ganja dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung, dan ada kemungkinan bahwa hal itu dapat menyebabkan masalah bagi seseorang yang sudah ada penyakit jantung sebelumnya. Tapi tidak ada dosis ganja yang diketahui bisa membunuh manusia."

Korban kedua dalam laporan itu, seorang lelaki berusia 28 tahun ditemukan tewas di rumahnya setelah mengonsumsi banyak makanan dan nyimeng barang sebatang dua batang. Laporan tersebut gagal menyatakan berapa banyak THC dalam sistem tubuhnya pada saat kematiannya, dan orang tersebut memiliki sejarah panjang alkohol dan penyalahgunaan narkoba lainnya. Botol alkohol kosong, LSD, MDMA, dan kokain juga ditemukan di rumah. Karena kurangnya bukti yang melibatkan ganja itu sendiri, pengumpulan data yang mengerikan dan kemungkinan kematiannya adalah akibat penggunaan polydrug. Laporan ini banyak diabaikan di dunia medis.

Post a Comment

Previous Post Next Post